Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Cerpen: Boneka Ayah III
“Jaga masmu baik-baik ya. Mamah berangkat.” Tangan mamahnya yang sedetik lalu mengelus pipi tirus Raras, tidak sehangat dulu. Mata cantik dengan bulu mata lentik itu, tidak lagi memancarkan cinta. “Kami pergi dulu ya,” ucap lelaki di samping mamah. Om Danu membawa tangan kurus mamah untuk ia genggam. Mereka saling menatap, Tatapan penuh cinta yang dulu sering Raras lihat di antara papa dan mamanya, sebelum masuk ke mobil putih pemberian Om Danu untuk mamah. Mobil putih itu sudah keluar gerbang rumah mendiang nenek dan kakenya, membawa wanita bernama Tantri itu menemui ayahnya yang Rara yakin sebentar lagi jadi mantan suami mamah. Sekarang Raras semakin yakin, wanita itu hanya sebatas Tantri di hidupnya.
Raras masuk ke rumah, menyusuri lorong penuh dengan bingkai foto usang dan berhenti di sebuah pintu kamar. Dari luar terasa sangat hening, tidak ada suara yang mengindikasikan ada kehidupan di dalam. Raras membuka pintu perlahan dan sosok besar itu seketika menoleh. Berhamburan ke pelukan Raras. Bobot tubuhnya yang tidak seberapa, tidak mampu menahan tubuh yang lebih besar, alhasil Raras jatuh terduduk dengan memeluk tubuh masnya yang semakin kurus.
“Ra…rash” Mas Raga menatap wajah Raras yang tengah menahan sakit akibat jatuh dengan bagian bokong duluan yang menyentuh tanah. Mata Raras masih terpejam namun sekejap terbuka begitu mendengar suara keras benda yang dipukul.
“Aku baik-baik aja, Mas. Yuk udah, yuk. Jangan dipukul, nanti sakit.” Dengan sigap Raras menghentikan aksi kakaknya yang sedang memukulkan kepalan tangan ke tempurung kepala. Mas Raga menurut.
Mereka pindah ke ruang tengah. Mata Raras tidak pernah lepas mengamati kakaknya yang sedang asik memainkan botol plastik bekas air mineral, sembari ia mengangkat barbel seberat 2 kilogram di kedua tangan. Raras tidak pernah lupa omongan papanya. Kata-kata beliau adalah perintah bagi Raras dan harus dipatuhi. Papanya tidak suka di bantah apalagi dibohongi. Raras harus waspada karena mata papa ada di mana-mana.
Ponselnya berbunyi, Lita menelepon. Raras sudah siap-siap ingin minta maaf, begitu suara sahabatnya itu berteriak memekakkan telinga, “Ke mana kamu semalem!” Raras bisa membayangkan wajah sahabatnya itu memerah mirip mochi stoberi.
“Nggak di mana-mana, kenapa aku kena omel mulu sih. Jangan kayak papaku deh Lit.”
“Habis, semalam papamu telepon. Kamu jadiin aku tumbal lagi ya, segala bilang main ke rumah aku lagi. Dia tahu kalau aku ngajak kamu ke kafe buat belajar, tau! Kamu nggak langsung pulang kan? Ke mana dulu? Kalau kamu langsung pulang kan papamu gak bakal curiga.”
“Sabar Lit, ngomongnya pelan-pelan. Napas dulu, gih.” Raras menjawab santai. “Aku dari toko lukis. Catku ada yang habis.”
“Ras, kamu kan bisa nitip ke aku buat beliin kayak biasa. Kenapa harus ambil resiko sih. Kalau ketahuan, kamu mau kayak waktu itu? Belom kapok semua lukisanmu dibakar?”
“Nggak usah diingetin juga kali, Lit.”
“Ah, maaf kebawa emosi.” Lita jadi tidak enak hati. Raras memang kapok, tapi kemarin malam dia hanya ingin keluar sebentar. Menghirup udara malam yang sangat jarang ia nikmati. Pikirannya sedang penat akhir-akhir ini. Papanya semakin ganas mengatur hidup Raras. Ditambah ujian kelulusan dan masuk perguruan tinggi juga tinggal menghitung bulan. Di saat temannya yang lain sibuk mempersiapkan diri dengan belajar dan ikut bimbel ke sana kemari, Raras harus berkutat dengan barbel dan lari keliling kompleks. Menjaga agar tubuhnya tetap fit untuk tes kebugaran bulan depan.
Lita merasakan keheningan yang cukup lama dari seberang telepon. “Kamu lagi latihan ya?” Lita lagi-lagi memecah lamunan Raras. Sedikit ragu, Lita akhirnya kembali berbicara, “Aku rasa sudah waktunya kamu ngomong, Ras, ke papamu. Kalau kamu butuh temen, aku siap temenin. Plis jangan maksain. Aku tahu badan kamu sanggup tapi mental kamu? Aku nggak mau kamu berakhir sama seperti mas Rag‒”
“Maaf ya,” ucap Raras lirih. “Mas Raga tantrum lagi, Lit. Aku tutup teleponnya." Raras menghela napas berat kemudian menoleh ke arah kakaknya yang sedang tertawa tanpa sebab. Dalam benaknya terbersit pemikiran konyol. Enak ya jadi kakaknya, tidak harus memikirkan omongan papa, tidak perlu kena omel, bentakan, atau bahkan pukulan tangan besar papa. Raras ingin seperti Mas Raga. Meskipun harus tersiksa dalam dunia halusinasi yang tiada berujung, Raras yakin bisa hidup bahagia. Setidaknya di dunia yang ia ciptakan sendiri, Raras tidak perlu menuruti omongan orang lain. Dia bebas menjadi apa yang dia inginkan. Tanpa terikat dengan benang yang papanya kaitkan ke setiap sendi raga dan pikirannya, bagai boneka hidup.
●●●
Raras ingin punya satu alasan untuk lari. Hidupnya bukan lagi miliknya, sudah lama direnggut oleh sang komandan perang berbaret ungu yang sayangnya selama depalan belas tahun menjabat sebagai ayahnya. Setahun yang lalu, belum seekstrim ini. Raras masih bisa bermimpi menjadi seorang seniman. Masih bebas membeli peralatan lukisnya setiap akhir bulan bersama Lita. Papanya berubah drastis semenjak anak pertamanya gagal menjalankan tugas mulia. Menjadi pioner kebanggaan di kesatuan komando yang dia pimpin. Mas Raga tumbang sebelum berperang. Raras tahu papanya sangat keras, tapi tidak sampai hati ia mengatakan beliau kejam bagai diktator. Tidak, sampai ia merasakannya sendiri. Setahun belakangan bagai neraka. Raras dididik untuk meneruskan tugas kakaknya yang belum tuntas. Dipaksa melupakan mimpi dan cita-citanya.
Kalau dengan menjadi tidak waras, ia bisa bahagia, Raras ingin jadi gila.
END
Popular Posts
Sistem Informasi : "Jangan samakan aku dengan sub-sistem!!"
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment