Featured

Cerpen: Air Mata Jingga (sudah diterbitkan)


Liburan kala itu menjadi kenangan yang tak terlupakan. Bahkan 9 tahun berlalu, semua kenangan di sore hari itu masih terekam jelas di ingatannya. Liburan yang seharusnya menjadi hal menyenangkan bagi sebagian orang, malah menjadi pertaruhan hidup dan mati untuk gadis berusia 7 tahun ini. Tak ada yang menyangka, kejadian mengerikan akan menimpanya. Semua berjalan begitu cepat. Berbanding terbalik dengan ingatannya yang lambat terhapus. Seakan Tuhan tidak sudi untuk mengenyahkan kenangan pahit itu dari dalam ingatannya. 

semua berjalan lancar. Liburan itu terasa manis seperti liburan pada umumnya. Semua tersenyum, dan terlihat bahagia. Mata gadis bernama Kinar itu, bahkan berbinar sesaat setelah kakinya menjejakkan tanah kota kelahiran ibundanya. Suasana pedesaan sudah tak lagi kental, dengan banyaknya mobil serta rumah-rumah kokoh di sepanjang jalan. Namun, kapal-kapal nelayan yang berjejer di garis pantai, masih menandakan bahwa Sidakaya, kabupaten Cilacap memanglah sebuah desa nelayan.

"Kita naik taksi saja ya, supaya adek bisa lanjutin bobo," ucap wanita berusia 36 tahun itu kepada anak gadis dalam gendongannya yang kini tengah mati-matian menahan kantuk. Parasnya yang cantik khas wanita Jawa dengan kulit sawo matang, pupil mata hitam dan hijab yang menutupi kepalanya, membuat orang-orang tidak akan percaya jika ia sudah memiliki 3 anak. Kecantikannya itu menurun kepada anak ketiganya, anak perempuan satu-satunya yang ia miliki. Anak pertama dan keduanya laki-laki, dan sudah menginjak usia remaja. Maka dari itu, saat musim mudik serta libur panjang seperti ini, menjadi momen yang cocok baginya mengajak anak-anak untuk silaturahmi ke rumah nenek mereka.

"Mas Rio tolong bantuin bapak angkat koper ke bagasi taksi ya, ibu mau nidurin adek dulu," ucapnya lagi kini kepada anak keduanya. Anak pertamanyaRaga–tahun ini tidak ikut mudik. Wanita itu langsung masuk ke dalam taksi dengan Kinar yang masih setia di dalam gendongannya. Sedangkan Rio dan bapak sedang mengangkat koper dan tas ke dalam bagasi taksi. Baru setelah selesai mereka menyusul ibu dan Kinar masuk ke dalam taksi.

"Adek udah tidur bu?" tanya Rio yang sudah duduk disamping ibu di kursi belakang, sedangkan bapak duduk di kursi depan sebelah sopir.

"Sudah. Mas Rio juga pasti capek kan, yaudah tidur sana nanti ibu bangunin kalau sudah sampai." Rio hanya mengangguk dan tak lama kemudian ikut tertidur karena kelelahan.

♪♫♪♫

Meskipun desa Sidakaya, kabupaten Cilacap terletak di dekat pantai, tetap saja udara pagi yang dingin membuat Kinar terbangun dari tidurnya. Ternyata Kinar sekeluarga sudah sampai di rumah nenek. Namun, Kinar yang tertidur tidak ingat kapan mereka sampai. Suara orang mengobrol terdengar dari luar kamar. Kinar rasa itu suara bapak dan neneknya yang sedang mengobrol.

"Eh, Mba Kinar sudah bangun?" Suara lembut seorang wanita tua menyapa pendengaran Kinar yang masih setengah mengantuk. Tangan kecilnya mengusap-usap mata dan wajahnya. Hanya gumaman kecil yang keluar dari bibir tipisnya.

"Sini-sini sama Mbah," ucap wanita tua itu lagi kepada Kinar. Seakan mengerti, Kinar mendekat ke arah neneknya dan jatuh ke pelukan hangat wanita tua itu.

"Adek masih ngantuk?" ucap bapak yang hanya dijawab anggukan kecil dari Kinar.

"Tidur saja lagi, ini masih pagi dek. Sini sama ibu--" ucapan ibu terpotong saat melihat Kinar menggelengkan kepala cepat.

"Mas Rio mana?" ucap Kinar dengan suara parau, masih dalam pelukan sang nenek.

"Mas Rio ke pantai, katanya mau cari kulit kerang. Adik tidur saja lagi, nanti ibu bilangin kalau Mas Rio pulang bawa kulit kerangnya," ucap ibu yang sudah duduk di samping nenek. Lagi-lagi Kinar hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.

"Nggak mau tidur, mau ke pantai juga." Kali ini malah nada manja yang Kinar perdengarkan. Kalau nada ini sudah keluar, berarti keinginannya tidak boleh diprotes atau ia akan menangis. Bapak hanya bisa menghela napas singkat, mau tidak mau keinginan putri kecilnya harus dituruti.

"Yasudah, adik mandi sana. Nanti bapak antar ke pantai." Final bapak yang disetujui oleh ibu dan nenek. Sedangkan Kinar memekik senang dengan kedua tangan yang terangkat ke udara. Kemana rasa kantuk bocah 7 tahun itu sekarang?

♪♫♪♫

Ekspresi cemberut itu masih setia menghias wajah manisnya. Bibir tipisnya terpaut dengan alis dan dahi yang berkerut.

"Kok adek ngambek?" tanya bapak lembut pada Kinar yang kini tengah manyun di kursi tempat duduknya.

"Abisnya kan adek mau nya ke pantai, bukan malah temenin bapak ngeteh," ucap gadis kecil itu sok pandai. Bapaknya hanya tertawa dan mengusap ujung kepala putri kecilnya.

"Kan tadi adek belum sempat sarapan, makanya bapak bawa adek kesini buat makan bubur."

"Yaudah, kan sekarang adek udah kenyang, bapak udah puas ngeteh, ayo cepet kita ke pantai..." ucap Kinar tak sabaran sambil menarik-narik lengan kaos polo yang dikenakan bapaknya. Mereka segera meninggalkan warung bubur itu dan berjalan ke pantai Teluk Penyu.

♪♫♪♫

"MAS RIOO..." teriak Kinar saat melihat kakak kesayangannya itu tengah asik memainkan pasir di pinggir pantai. Rio yang sadar namanya dipanggil, segera menoleh dan berlari ke arah bapak dan adiknya itu.

"Pilih yang mana," ucap Rio begitu sampai di depan Kinar, dengan kedua tangan yang terkepal dan terjulur ke depan. Kinar tau apa maksudnya. Dengan cepat jari telunjuknya menunjuk kepalan tangan Rio yang sebelah kiri. Rio membukanya perlahan dan ternyata kosong.

"Yah...sayang, kerangnya nggak jadi buat Kinar, deh," ucap Rio pura-pura mengejek. Kinar yang merasa dipermainkan oleh kakak jahilnya itu, segera merajuk dan mengadu pada bapaknya. Rio yang puas mengerjai adiknya, akhirnya memberikan kulit kerang berwarna putih itu kepada adiknya sambil mencium pipi gembul adiknya cepat. Seyum senang segera menghiasi wajah Kinar. Kemudian secepat kilat Rio berlari menjauhi adiknya mendekati bibir pantai yang disusul Kinar di belakangnya. 

Setelah itu kegiatan-kegiatan menyenangkan terus mereka lakukan. Mulai dari Kinar yang mencoba mencari kulit kerang, bermain pasir, membuat istana pasir, sampai aksi konyol Rio yang membuat gelak tawa gadis itu terkadang pecah. Semua terasa sangat menyenangkan. Senyum dengan deretan gigi susu yang rapi itu tak henti-hentinya Kinar tampakkan.

Hingga sore hari menjelang, saat pantai sudah mulai sepi. Kinar masih setia menggambar diatas pasir pantai yang basah, saat suara kakaknya mengganggu keasyikan gadis itu.

"Ayo pulang, udah sore," ucap Rio menjulurkan tangannya untuk membantu adiknya bangun dari posisi duduk. Kinar mengangguk, dan segera menyambut tangan yang lebih besar itu. Bajunya sudah kembali kering, dan kulitnya terlihat lebih gelap sekarang. Rio berjalan didepan Kinar dengan tangannya yang menggenggam sebatang kayu panjang yang ia seretkan diatas pasir, membuat berkas garis memanjang. Kinar melihat ke arah laut yang warnanya tak lagi sebiru tadi siang. Warnanya sekarang terlihat kuning, kontras dengan warna langit yang jingga. Sungguh indah, membius mata gadis itu untuk tidak sedetikpun berkedip. 

Teringat akan sesuatu, gadis itu merogoh saku baju terusannya. Seketika wajahnya tampak bingung dan kepalanya menoleh kesana kemari. Kulit kerangnya hilang. Hadiah pemberian kakaknya itu sekarang tidak ada di saku bajunya, juga tidak ada di sekitar ia berdiri. “Mungkin tertinggal di tempat bermain pasir,” pikirnya. Dengan cepat, Kinar membalik badan berlari ketempat tadi dia bermain pasir, menjauhi kakaknya yang terus saja berjalan ke tempat ayahnya menunggu, tanpa sadar apa yang tengah adiknya lakukan.

Kinar berlari sekencang mungkin agar bisa sampai lebih cepat dan bisa menyusul kakaknya. Namun sayang, setelah sampai ternyata kulit kerang itu tidak ada dimanapun, bahkan di tempat tadi ia bermain pasir. Kinar terus mencarinya. Ia tidak ingin benda berharga untuknya itu hilang. Sampai akhirnya, saat ombak sedang turun, ia menemukannya tergeletak di atas pasir yang cukup jauh dari tempat ia berdiri sekarang. Dengan sedikit ragu langkahnya terus berjalan kearah kulit kerang itu berada. Ia berjongkok dan tangannya berhasil menggapai benda berharganya. Senyum lebar kembali terpasang. Namun tidak lama, hanya beberapa detik, hingga tiba-tiba nafasnya terasa tercekat. 

♪♫♪♫

Suara seakan teredam dan rasa asin memenuhi indra perasanya. Gadis itu seperti terdorong jatuh lalu terseret dengan cepat oleh sesuatu yang besar. Tubuhnya seakan melayang namun tak lama, seperti ada sesuatu yang menariknya ke bawah dan terus kebawah. Matanya terpejam, tidak berani terbuka. Lengan kecilnya refleks terangkat keatas, berharap seseorang menariknya menjauh dari keadaan yang tak ia mengerti ini. Tubuhnya seperti diguncangkan oleh ribuan tangan, kesana-kemari. Terbawa arus, tak jelas arah dan menghantam benda apapun yang ia temui. 

Parahnya lagi, benda besar nan tajam itu menghantam keras tepat di kepala. Membuat bau amis tercium dan hamparan air seketika berubah warna. Merah, mengelilingi tubuh kecilnya.  

Semua berjalan begitu cepat. Sampai akhirnya semua seperti terhenti.  Gelap, dan Kinar tidak bisa merasakan apapun lagi.

♪♫♪♫

"Capek...." ucap Rio setengah berteriak begitu ia sampai di tempat bapaknya menunggu dengan segelas teh hangat diatas meja kayu. Kedua lengannya ia renggangkan ke belakang. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian bermain dengan adiknya di pantai.

"Mas, adek mana?" ucap bapak cepat setelah melihat Rio kembali sendirian. Ada nada kepanikan dalam kalimatnya.

"Eh? memangnya..." Rio menoleh kebelakang dan tidak ada siapapun disana.

"Kinar mana?!" tanya bapak lagi, kali ini dengan nada yang ditinggikan. Ada yang tidak beres, batinnya.

"Tadi ada dibelakang aku. Dia ngikutin aku. Tapi kok sekarang nggak ada..." jawab Rio juga mulai panik. Kata terakhir bahkan terdengar seperti gumaman. Dengan cepat bapak langsung bergegas kembali ke tempat kedua anaknya itu bermain tadi, untuk mencari Kinar. Langkahnya seperti orang kesetanan. Ia berlari begitu cepat. Mudah-mudahan saja firasatnya salah.

Tapi, Tuhan sedang tidak berpihak kepadanya. Firasatnya benar dan itu tidak menyenangkan. Apa yang ia lihat begitu mengerikan dan tak dapat terbayangkan sebelumnya. Ia berharap semua ini bukan kenyataan. Ia berharap ini mimpi dan gadis kecil yang setengah tenggelam itu bukan putri kecilnya.

Tanpa pikir panjang, bapak berlari kearah laut yang saat itu sedang ombak besar. Berenang secepat dan sekuat mungkin untuk menyelamatkan gadis di tengah laut itu yang memang benar adalah putrinya, tenggelam terseret ombak. Diangkatnya tubuh rapuh putri kecilnya dan dengan segera membawanya ke daratan. Napas bapak berderu hebat antara kelelahan dan takut. Dalam hatinya, tak henti-henti ia ucapkan doa-doa apapun demi keselamatan Kinar, sembari ia terus memberi napas buatan untuk menyadarkan putrinya. Tapi si gadis tidak kunjung sadar. Akhirnya dengan bantuan warga sekitar, bapak memutuskan membawa Kinar ke puskesmas terdekat.

♪♫♪♫

Tubuhnya sadar, namun hanya gelap yang ia rasakan. Kepalanya masih pusing, membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa. Semua terasa aneh dan membingungkan. Dimana ini? Apa yang sedang ia lakukan? Dimana bapak, ibu dan kakak-kakaknya? Hanya itu yang terus ia pikirkan. Sampai akhirnya, ada sesuatu yang hangat ia rasakan di genggaman tangannya.

"Adek…sayang, ini ibu." Entah kenapa Kinar tidak suka saat mendengarnya. Bukan, Kinar benci mendengar nada suara ibunya yang bergetar, dengan sedikit terisak. Kinar tidak tau, ibunya mati-matian menahan agar isakan itu tidak keluar lebih keras.

Rasa hangat itu kini berpindah ke atas kepalanya dan berakhir di pipinya. “Ah, ternyata itu tangan ibu ya?” batinya.

"Kinar, adek kuat ya," Sekarang suara bapak. Sebenarnya ada apa? Kinar benar-benar tidak mengerti kenapa semua bersuara seperti ini. Kinar tidak suka, Kinar khawatir. Kinar…takut. 

"Dek, Mas Raga ada disini." itu suara Raga kakak pertamanya. Bahkan Raga saja ada disini, bukanya Raga tidak ikut mudik. Ini dimana? Kinar ingin membuka mata tapi tidak bisa. Siapapun, tolong jelaskan ke Kinar. Jangan hanya berbicara tidak jelas dengan nada yang Kinar tidak suka. 

"Kinar…" Itu dia! Itu suara kakak kesayangannya. 

"Mas Rio, Mas--" 

"Maafin Mas… " 

"Hah? kenapa minta maaf? Mas Rio nggak salah apapun." Tangan Kinar terjulur mencari-cari tangan besar kakaknya. Rio menyambut uluran tangan mungil nan lemah itu kemudian ia genggam dengan sangat erat. Genggamannya bergetar, bahunya berguncang hebat. Tangisan yang selama ini berusaha ia tahan, tumpah. Rio tidak kuat untuk tetap terus tegar dihadapan adiknya. Menjadi sosok pahlawan di mata adiknya, padahal ia yang menjadi tokoh jahatnya sekarang. 

"Maafin, maafin Mas Rio. Semua gara-gara Mas…" 

"Mas Rio nangis kah? Jangan nangis, masa udah gede nangis, cengeng! Nanti Kinar kasih lagi deh kulit kerangnya buat Mas Rio." 

Rio tidak kuasa menahannya. Tubuh mungil adiknya yang masih terbaring lemah diatas tempat tidur, ia rengkuh, ia peluk dengan sangat erat. Semua karena kesalahannya, hatinya sakit melihat kondisi Kinar sekarang. Ia terus memeluk Kinar dengan isakan yang ditahan. 

Kinar bingung, kenapa semuanya bersikap seperti ini kepadanya? Yang jelas Kinar sakit sekarang. Hatinya sakit hanya dengan mendengar keluarganya terisak seperti ini. Tanpa tau mengapa, Kinar menangis. Matanya yang tidak bisa ia buka, sekarang terasa basah karena air mata. 

"Mas Rio…"

"Adek nggak usah khawatir, mulai saat ini Mas Rio yang akan jadi mata untuk Kinar.”


TAMAT

*cerpen ini sudah diterbitkan ke dalam buku antologi kumpulan cerita pendek berjudul "Air mata Jingga" yang diterbitkan oleh Polimedia Publishing sebagai bagian dari tugas mata kuliah penulisan.*



Comments

Popular Posts