Selama
kurang lebih tiga bulan saya berkuliah, saya rasakan banyak perubahan. Dapat
tambahan ilmu, jelas. Merasakan pengalaman baru, pasti. Tapi lebih dari itu
semua, saya diajak untuk lebih sayang pada diri sendiri.
Pikiran saya seakan terbuka, mau dibawa kemana diri saya ini setelah
lulus nanti. Visi saya semakin jelas, tekad saya sudah bulat, saya harus
menjadi seorang writer diIndustri
media. Kalau kata anak jaman sekarang, sudah fix. Tapi mimpi tanpa ikhtiar, seperti roda tanpa gigi. Tidak akan
bisa berjalan. Tidak akan bisa tercapai tujuan. Makanya, saya belajar banyak
hal disini. Tentang bagaimana merubah mimpi dari sekedar bunga tidur menjadi
kenyataan.
Caranya dengan menerapkan semua ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Setelah
menerima banyak pengetahuan baru, alangkah baiknya jika kita menerapkannya dikeseharian.
Tapi, dengan sangat berat hati, saya nyatakan belum maksimal dalam
menerapkannya dikehidupan. Namun saya berusaha agar hal-hal baik yang telah
saya kerjakan sebelumnya, tetap saya lakukan dengan konsisten.
IPK 3,5 ?
Gancil !!
Apakah Anda meragukannya? Benar kok, saya tidak bohong. Dapat IPK 3,5
itu mudahyang saya dengar, jangan hujat sayaAda beberapa kiat yang saya dapat
agar bisa raih IPK 3,5. Tidak sulit dilihat, tapi sulit untuk dilakukan. Sebagian
sudah saya terapkan, sebagian lagi susah untuk dikerjakan.
1. Cukupkan
istirahat.
Enam jam adalah waktu yang
ideal untuk tidur perharinya. Saya memang dibiasakan untuk bangun pagi sejak
Sekolah Menengah Atas. Jadi untuk bangun pagi pukul 4 alhamdulillah saya sudah
terbiasa. Selain karena terbiasa, memang jadwal kereta mengharuskan saya sudah
harus tiba di stasiun paling lambat pukul 5.15 pagi. Pukul 6.30 saya sudah tiba
dikampus dan menuju mushola polmed untuk sholat duha. Sekitar pukul 7.00 saya
baru sampai dikelas. Sehingga bisa dipastikan saya tidak akan pernah terlambat,
kecuali ada hal lain seperti jadwal kereta yang molor. Hal itu saya kerjakan
setiap hari.
Semenjak kuliah entah kenapa
saya malah tidur setelah isya sekitar pukul 08.00 malam. Saya merasa cukup
dengan jam tidur ini. Bahkan kadang malah kelebihan, sehingga paling malam saya
akan tidur pukul 09.00 WIB. Sebisa mungkin saya kerjakan tugas di kampus
disela-sela jam kosong pelajaran, jadi di rumah adalah waktu saya istirahat dan
family time. Lagian mengerjakan tugas
di kampus saya rasa lebih menyenangkan. Bisa sharing pengetahuan dan diskusi materi. Tapi bukan berarti
menyontek loh ya, disontekin iya!
2.
Bersyukur kepada
Tuhan
Semua manusai beragama pasti
diajarkan untuk selalu bersyukur kepada Tuhan. Bukan tanpa alasan, tapi
keberadaan Tuhan adalah segalanya untuk kita. Tanpa rahmat dan karunia-Nya,
kita tidak akan bisa hidup nikmat di dunia. Bersyukurlah sesuai dengan
keyakinanmu. Sebelum memulai aktivitas, selalu awali dengan berdoa, bersyukur
dan meminta kelancaran.
Saya Muslim, saya lakukan
ibadah sesuai agama saya. Hal-hal baik lainnya seperti shalat dhuha dan puasa
Senin-Kamis yang telah saya bawa sejak SMA, Alhamdulillah masih saya lakukan
hingga sekarang. Budaya 5S (senyum, sapa, salam, sopan dan santun) senantiasa
saya terapkan. Banyak pula hal baru yang saya dapat dari teman. Tentang arti
tolong-menolong tanpa pamrih, bekerja sama, dan yang paling penting belajar
memaafkan dengan ikhlas.
3.
Latih Pikiran
Latih pikiran dengan membaca buku yang tidak disuka. Keluar
dari zona nyaman adalah hal yang sulit. Tapi jika tidak melakukannya, kita
tidak akan bisa berkembang. Stuck
pada satu titik. Tantang diri dengan hal baru yang belum pernah kita lakukan
sebelumnya. Secara otomatis fisik, pikiran dan mental akan terlatih dengan
sendirinya.
Tentang buku yang tidak
disuka, saya mulai membaca buku-buku non-fiksi sebagai referensi bacaan
menggantikan novel online. Memang tidak mudah, namun saya mulai menyukainya dan
merasa tertantang untuk membaca lebih banyak buku non-fiksi. Itung-itung
menambah pengetahuan umum dan melatih berpikir kritis tentang topik-topik
berat. Sayangnya buku non-fiksi kebanyakan berbentuk fisik dengan harga yang
menurut saya tidak murah.
Saya terbiasa membaca buku
di handphone secara online, hanya
tinggal mendownload dan bisa dibuka dimana saja kapan saja. Sedangkan buku
non-fiksi sangat jarang yang bisa didownload
dengan free. Minimal nominal yang
harus dikeluarkan adalah Rp50.000 keatas untuk satu buku fisik keluaran
terbaru, sehingga menghambat saya untuk membeli buku baru. Satu-satunya cara
adalah dengan mendatangi book fair/pameran
dan event cuci gudang. Disana
terkadang banyak buku-buku lama yang sudah tidak laku dan dijual dengan harga
sangat murah. Barulah saya bisa memenuhi stok buku bacaan.
Salah satu pameran yang bisa
dibilang paling “wah” yang pernah saya kunjungi adalah IIBF. Saya membatin saat
itu, kemana saja saya selama 18 tahun saya hidup? Sungguh sangat sia-sia. Saya
terkagum dengan banyaknya judul buku dan kemegahan penyelenggaraan IIBF. Dan
tidak lupa harganya yang beragam, ada yang ramah kantong mahasiswa ada pula
yang tidak. tinggal pilih saja. satu hari kunjungan saya rasa tidak akan cukup
untuk menikmati keseluruhan acara.
Trik ini baru saya dapatkan
setelah masuk penerbitan polimedia. Sebelumnya malah sama sekali tidak pernah
disengajakan ke pameran buku. Boro-boro berkunjung, tahu saja tidak. Memang
awalnya untuk memenuhi tugas, lama-lama ketagihan. Setelah masuk penerbitan,
secara tidak langsung infomasi mengenai pameran buku murah ada saja yang
datang. Tentunya itu sangat bermanfaat untuk pemenuhan hasrat bacaan. Dan yang
paling penting ramah dikantong.
Saya percaya
dengan melakukan langkah-langkah diatas, saya bisa mendapat IPK 3,5 atau bahkan
lebih. Dengan menjalaninya, menjadikan individu lebih baik dimasa mendatang.
Mimpi saya tidak akan terlupa dan hanya sekedar menjadi bunga tidur. Mimpi itu
akan merupa jadi nyata. Wujudkan mimpi mu kawan!
Comments
Post a Comment