Skip to main content

Featured

Cerpen: Air Mata Jingga (sudah diterbitkan)

Liburan kala itu menjadi kenangan yang tak terlupakan. Bahkan 9 tahun berlalu, semua kenangan di sore hari itu masih terekam jelas di ingatannya. Liburan yang seharusnya menjadi hal menyenangkan bagi sebagian orang, malah menjadi pertaruhan hidup dan mati untuk gadis berusia 7 tahun ini. Tak ada yang menyangka, kejadian mengerikan akan menimpanya. Semua berjalan begitu cepat. Berbanding terbalik dengan ingatannya yang lambat terhapus. Seakan Tuhan tidak sudi untuk mengenyahkan kenangan pahit itu dari dalam ingatannya.  semua berjalan lancar. Liburan itu terasa manis seperti liburan pada umumnya. Semua tersenyum, dan terlihat bahagia. Mata gadis bernama Kinar itu, bahkan berbinar sesaat setelah kakinya menjejakkan tanah kota kelahiran ibundanya. Suasana pedesaan sudah tak lagi kental, dengan banyaknya mobil serta rumah-rumah kokoh di sepanjang jalan. Namun, kapal-kapal nelayan yang berjejer di garis pantai, masih menandakan bahwa Sidakaya, kabupaten Cilacap memanglah sebuah desa ne...

Apakah Anda Sudah Berubah?




Selama kurang lebih tiga bulan saya berkuliah, saya rasakan banyak perubahan. Dapat tambahan ilmu, jelas. Merasakan pengalaman baru, pasti. Tapi lebih dari itu semua, saya diajak untuk lebih sayang pada diri sendiri.
Pikiran saya seakan terbuka, mau dibawa kemana diri saya ini setelah lulus nanti. Visi saya semakin jelas, tekad saya sudah bulat, saya harus menjadi seorang writer diIndustri media. Kalau kata anak jaman sekarang, sudah fix. Tapi mimpi tanpa ikhtiar, seperti roda tanpa gigi. Tidak akan bisa berjalan. Tidak akan bisa tercapai tujuan. Makanya, saya belajar banyak hal disini. Tentang bagaimana merubah mimpi dari sekedar bunga tidur menjadi kenyataan.

Caranya dengan menerapkan semua ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Setelah menerima banyak pengetahuan baru, alangkah baiknya jika kita menerapkannya dikeseharian. Tapi, dengan sangat berat hati, saya nyatakan belum maksimal dalam menerapkannya dikehidupan. Namun saya berusaha agar hal-hal baik yang telah saya kerjakan sebelumnya, tetap saya lakukan dengan konsisten.

 IPK 3,5 ? Gancil !!
Apakah Anda meragukannya? Benar kok, saya tidak bohong. Dapat IPK 3,5 itu mudahyang saya dengar, jangan hujat sayaAda beberapa kiat yang saya dapat agar bisa raih IPK 3,5. Tidak sulit dilihat, tapi sulit untuk dilakukan. Sebagian sudah saya terapkan, sebagian lagi susah untuk dikerjakan.

     1.      Cukupkan istirahat.
Enam jam adalah waktu yang ideal untuk tidur perharinya. Saya memang dibiasakan untuk bangun pagi sejak Sekolah Menengah Atas. Jadi untuk bangun pagi pukul 4 alhamdulillah saya sudah terbiasa. Selain karena terbiasa, memang jadwal kereta mengharuskan saya sudah harus tiba di stasiun paling lambat pukul 5.15 pagi. Pukul 6.30 saya sudah tiba dikampus dan menuju mushola polmed untuk sholat duha. Sekitar pukul 7.00 saya baru sampai dikelas. Sehingga bisa dipastikan saya tidak akan pernah terlambat, kecuali ada hal lain seperti jadwal kereta yang molor. Hal itu saya kerjakan setiap hari.
Semenjak kuliah entah kenapa saya malah tidur setelah isya sekitar pukul 08.00 malam. Saya merasa cukup dengan jam tidur ini. Bahkan kadang malah kelebihan, sehingga paling malam saya akan tidur pukul 09.00 WIB. Sebisa mungkin saya kerjakan tugas di kampus disela-sela jam kosong pelajaran, jadi di rumah adalah waktu saya istirahat dan family time. Lagian mengerjakan tugas di kampus saya rasa lebih menyenangkan. Bisa sharing pengetahuan dan diskusi materi. Tapi bukan berarti menyontek loh ya, disontekin iya!

      2.      Bersyukur kepada Tuhan
Semua manusai beragama pasti diajarkan untuk selalu bersyukur kepada Tuhan. Bukan tanpa alasan, tapi keberadaan Tuhan adalah segalanya untuk kita. Tanpa rahmat dan karunia-Nya, kita tidak akan bisa hidup nikmat di dunia. Bersyukurlah sesuai dengan keyakinanmu. Sebelum memulai aktivitas, selalu awali dengan berdoa, bersyukur dan meminta kelancaran.
Saya Muslim, saya lakukan ibadah sesuai agama saya. Hal-hal baik lainnya seperti shalat dhuha dan puasa Senin-Kamis yang telah saya bawa sejak SMA, Alhamdulillah masih saya lakukan hingga sekarang. Budaya 5S (senyum, sapa, salam, sopan dan santun) senantiasa saya terapkan. Banyak pula hal baru yang saya dapat dari teman. Tentang arti tolong-menolong tanpa pamrih, bekerja sama, dan yang paling penting belajar memaafkan dengan ikhlas.

      3.      Latih Pikiran
Latih pikiran dengan membaca buku yang tidak disuka. Keluar dari zona nyaman adalah hal yang sulit. Tapi jika tidak melakukannya, kita tidak akan bisa berkembang. Stuck pada satu titik. Tantang diri dengan hal baru yang belum pernah kita lakukan sebelumnya. Secara otomatis fisik, pikiran dan mental akan terlatih dengan sendirinya. 

Tentang buku yang tidak disuka, saya mulai membaca buku-buku non-fiksi sebagai referensi bacaan menggantikan novel online. Memang tidak mudah, namun saya mulai menyukainya dan merasa tertantang untuk membaca lebih banyak buku non-fiksi. Itung-itung menambah pengetahuan umum dan melatih berpikir kritis tentang topik-topik berat. Sayangnya buku non-fiksi kebanyakan berbentuk fisik dengan harga yang menurut saya tidak murah.
Saya terbiasa membaca buku di handphone secara online, hanya tinggal mendownload dan bisa dibuka dimana saja kapan saja. Sedangkan buku non-fiksi sangat jarang yang bisa didownload dengan free. Minimal nominal yang harus dikeluarkan adalah Rp50.000 keatas untuk satu buku fisik keluaran terbaru, sehingga menghambat saya untuk membeli buku baru. Satu-satunya cara adalah dengan mendatangi book fair/pameran dan event cuci gudang. Disana terkadang banyak buku-buku lama yang sudah tidak laku dan dijual dengan harga sangat murah. Barulah saya bisa memenuhi stok buku bacaan.
Salah satu pameran yang bisa dibilang paling “wah” yang pernah saya kunjungi adalah IIBF. Saya membatin saat itu, kemana saja saya selama 18 tahun saya hidup? Sungguh sangat sia-sia. Saya terkagum dengan banyaknya judul buku dan kemegahan penyelenggaraan IIBF. Dan tidak lupa harganya yang beragam, ada yang ramah kantong mahasiswa ada pula yang tidak. tinggal pilih saja. satu hari kunjungan saya rasa tidak akan cukup untuk menikmati keseluruhan acara.
Trik ini baru saya dapatkan setelah masuk penerbitan polimedia. Sebelumnya malah sama sekali tidak pernah disengajakan ke pameran buku. Boro-boro berkunjung, tahu saja tidak. Memang awalnya untuk memenuhi tugas, lama-lama ketagihan. Setelah masuk penerbitan, secara tidak langsung infomasi mengenai pameran buku murah ada saja yang datang. Tentunya itu sangat bermanfaat untuk pemenuhan hasrat bacaan. Dan yang paling penting ramah dikantong.


Saya percaya dengan melakukan langkah-langkah diatas, saya bisa mendapat IPK 3,5 atau bahkan lebih. Dengan menjalaninya, menjadikan individu lebih baik dimasa mendatang. Mimpi saya tidak akan terlupa dan hanya sekedar menjadi bunga tidur. Mimpi itu akan merupa jadi nyata. Wujudkan mimpi mu kawan!


Comments

Popular Posts