Skip to main content

Featured

Cerpen: Air Mata Jingga (sudah diterbitkan)

Liburan kala itu menjadi kenangan yang tak terlupakan. Bahkan 9 tahun berlalu, semua kenangan di sore hari itu masih terekam jelas di ingatannya. Liburan yang seharusnya menjadi hal menyenangkan bagi sebagian orang, malah menjadi pertaruhan hidup dan mati untuk gadis berusia 7 tahun ini. Tak ada yang menyangka, kejadian mengerikan akan menimpanya. Semua berjalan begitu cepat. Berbanding terbalik dengan ingatannya yang lambat terhapus. Seakan Tuhan tidak sudi untuk mengenyahkan kenangan pahit itu dari dalam ingatannya.  semua berjalan lancar. Liburan itu terasa manis seperti liburan pada umumnya. Semua tersenyum, dan terlihat bahagia. Mata gadis bernama Kinar itu, bahkan berbinar sesaat setelah kakinya menjejakkan tanah kota kelahiran ibundanya. Suasana pedesaan sudah tak lagi kental, dengan banyaknya mobil serta rumah-rumah kokoh di sepanjang jalan. Namun, kapal-kapal nelayan yang berjejer di garis pantai, masih menandakan bahwa Sidakaya, kabupaten Cilacap memanglah sebuah desa ne...

TURN BACK TIME


Salam Jumpa Penerbitan


Latar belakang pendidikan saya adalah eksakta. Sedari kecil, saya selalu menganggap pelajaran matematika dan ipa adalah pelajaran yang mudah. Disaat semua anak seumuran saya membencinya, saya malah mencintainya. Terkadang saya heran dengan teman-teman saya yang selalu mengeluh tentang tugas berhitung yang memusingkan atau hapalan struktur tumbuhan yang memuakkan. Berbeda dengan mereka, saya mencintainya.

Saya tidak main-main saat mencintai sesuatu. Merasa memiliki bakat dan kecintaan dibidang ini, saya mengikuti berbagai perlombaan. Tingkat kota, provinsi, nasional, harapan 1, juara 1, hingga juara umum, pernah saya telan. Tak ayal membuat saya menjadi seorang primadona. Namun, tak selamanya menjadi primadona itu menyenangkan. Percayalah kawan, karena itu yang saya rasakan.

Apa arti teman untuk kalian? seseorang yang berharga? keluarga? atau malah hama? awalnya saya menganggap teman sebagai seseorang yang tugasnya hanya "menemani", tanpa harus memengaruhi. Selama 9 tahun kehidupan akademik saya, tak banyak wajah-wajah teman yang saya ingat. "untuk apa? toh mereka tidak berpengaruh kepada saya" pikir saya saat itu. Namun lambat laun kesepian itu menjalar, halus kesetiap inchi hati anak berusia 15 tahun. Disaat anak lain saling tertawa bersama temannya, saya memeluk erat teman saya didada. memandang benda persegi itu seperti dewa.

Dewa kematian yang perlahan membunuh saya dalam kesepian.

Pujian terasa hampa, saat terdengar cemooh di belakang. Aneh, pendiam, mata empat atau apalah itu. Pertemanan bagai sebuah kontrak kerja, urusan selesai, kesepakatan bubar. Selalu seperti itu. Dingin kesepian itu semakin menjadi. Saat itulah saya sadar, saya salah.

Saya tidak menyalahkan keputusan saya mencintai eksak, pun tidak membencinya. Saya hanya merasa cara saya salah, bahwa ada cara lain yang lebih tepat. Bahwa dengan cara itu, saya bisa mengisi kekosongan jiwa, menghangatkan dinginnya kesepian. Dalam pencarian itu, saya menemukan kecintaan saya pada lainnya. Bukan berniat mendua, hanya membagi hati sama rata untuk dua hal yang kentara berbeda.

Menulis memberi jiwa untuk saya. Dengan menuangkan pikiran dalam kata, membuat saya mengerti artinya "teman". Teman baru, menulis menjadi teman baru saya. Sahabat pena kah juluknya? mungkin iya. Awalanya memang hanya sekedar sahabat, pengisi kekosongan, lambat laun menjadi cinta. Akhirnya, saya mulai menerka adakah wadah yang bisa saya tempati untuk menyalurkan kecintaan ini. Saat itulah saya mendengar kata Penerbitan.

Saya kenal dengan penerbitan melalui menulis. Di penerbitan saya belajar banyak hal. Tak hanya melulu soal tulis menulis, namun juga kedisiplinan dan tanggung jawab. Banyak hal yang dapat saya ambil dari ibu dan bapak dosen dijurusan penerbitan. Semua itu akan saya bagi untuk kalian disini.





Comments

Popular Posts