Salam Jumpa Penerbitan
Latar belakang pendidikan
saya adalah eksakta. Sedari kecil, saya selalu menganggap pelajaran matematika
dan ipa adalah pelajaran yang mudah. Disaat semua anak seumuran saya
membencinya, saya malah mencintainya. Terkadang saya heran dengan teman-teman
saya yang selalu mengeluh tentang tugas berhitung yang memusingkan atau hapalan
struktur tumbuhan yang memuakkan. Berbeda dengan mereka, saya mencintainya.
Saya tidak main-main saat
mencintai sesuatu. Merasa memiliki bakat dan kecintaan dibidang ini, saya
mengikuti berbagai perlombaan. Tingkat kota, provinsi, nasional, harapan 1,
juara 1, hingga juara umum, pernah saya telan. Tak ayal membuat saya menjadi
seorang primadona. Namun, tak selamanya menjadi primadona itu menyenangkan.
Percayalah kawan, karena itu yang saya rasakan.
Apa arti teman untuk kalian? seseorang yang berharga?
keluarga? atau malah hama? awalnya saya menganggap teman sebagai seseorang yang
tugasnya hanya "menemani", tanpa harus memengaruhi. Selama 9 tahun
kehidupan akademik saya, tak banyak wajah-wajah teman yang saya ingat.
"untuk apa? toh mereka tidak berpengaruh kepada saya" pikir saya saat
itu. Namun lambat laun kesepian itu menjalar, halus kesetiap inchi hati anak
berusia 15 tahun. Disaat anak lain saling tertawa bersama temannya, saya
memeluk erat teman saya didada. memandang benda persegi itu seperti dewa.
Dewa
kematian yang perlahan membunuh saya dalam kesepian.
Pujian terasa hampa, saat
terdengar cemooh di belakang. Aneh, pendiam, mata empat atau apalah itu.
Pertemanan bagai sebuah kontrak kerja, urusan selesai, kesepakatan bubar.
Selalu seperti itu. Dingin kesepian itu semakin menjadi. Saat itulah saya
sadar, saya salah.
Saya tidak menyalahkan
keputusan saya mencintai eksak, pun tidak membencinya. Saya hanya merasa cara
saya salah, bahwa ada cara lain yang lebih tepat. Bahwa dengan cara itu, saya
bisa mengisi kekosongan jiwa, menghangatkan dinginnya kesepian. Dalam pencarian
itu, saya menemukan kecintaan saya pada lainnya. Bukan berniat mendua, hanya
membagi hati sama rata untuk dua hal yang kentara berbeda.
Menulis memberi jiwa untuk
saya. Dengan menuangkan pikiran dalam kata, membuat saya mengerti artinya
"teman". Teman baru, menulis menjadi teman baru saya. Sahabat pena
kah juluknya? mungkin iya. Awalanya memang hanya sekedar sahabat, pengisi
kekosongan, lambat laun menjadi cinta. Akhirnya, saya mulai menerka adakah
wadah yang bisa saya tempati untuk menyalurkan kecintaan ini. Saat itulah saya
mendengar kata Penerbitan.
Saya kenal dengan penerbitan
melalui menulis. Di penerbitan saya belajar banyak hal. Tak hanya melulu soal
tulis menulis, namun juga kedisiplinan dan tanggung jawab. Banyak hal yang
dapat saya ambil dari ibu dan bapak dosen dijurusan penerbitan. Semua itu akan
saya bagi untuk kalian disini.
Comments
Post a Comment