Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Cerpen: Bawang VS Plastik
Kata orang, Otaku dan Kpopers itu enggak bisa sejalan. Ibarat minyak dan air, enggak akan pernah menyatu. Kayak kucing dan anjing, mustahil buat akur. Sekalinya ngumpul, langsung saling hina, “Ihh bau bawang.” atau “Dih sukanya sama plastik.” Sampe capek telinga Dhatu dengernya. Mereka tinggal di dunia yang kentara beda. Otaku mengiblat ke negara sakura, sedangkan Kpopers memuja negara Korea﹣Korea Selatan ya bukan Korea Utara. Yang satu terjebak di dunia 2D yang nggak nyata, yang lain terlalu mendewa wajah cantik Oppa-oppa. Prinsip dan jalan hidup mereka udah berbeda, mulai dari detik pertama mereka lahir ke dunia.
Dhatu itu Otaku garis keras, demennya Jejepangan. Kemana-mana pasti dipanggil orang pake sebutan “bawang”, padahal jelas-jelas dia punya nama, Dhatu Gantari Indriyani. Nggak tahu tuh darimana asal panggilan itu. Badannya nggak bau bawang sama sekali. Boro-boro, makan bawang aja Dhatu mual. Bau bawang itu nyengat bikin sakit hidung. Dhatu alergi. Denger bawang bawaannya sensi. Makanya dia kesel banget saat ada orang yang nyebut dia bawang. Plis siapapun stop!
Otaku garis keras susah buat berpaling. Dhatu salah satu dari mereka. Pesona karakter anime lebih tinggi daripada pacar sendiri. Padahal jelas-jelas itu nggak ada di dunia nyata. Cuman angan-angan dan khayalan belaka. Buatan manusia di Jepang sana. Ada satu karakter yang jadi favorit Dhatu, namanya Daiki, marganya Aomine. Daiki yang berkulit coklat dekil dan bersurai biru di salah satu anime Shonen Jump, sudah dia klaim sebagai Husbando, suami khayalan. Dhatu tergila-gila sampai membeli semua barang yang berbau dirinya. Muka Daiki terpampang nyata di dinding kamar, di handuk, cangkir, pin, gantungan kunci sampe bantal guling, lengkap. Sejak mengenal seorang Aomine Daiki, Dhatu jadi jomblo sejati.
Kehidupan jadi seorang Otaku itu keras, harus siap hati. Panggilan bawang belum seberapa kalau kamu belum merasakan seperti apa dikucilkan teman. Dianggap kuper lah, alay, sampai dibilang punya dunia sendiri yang beda dengan dunia orang normal. Nah loh, dikata Otaku itu macam alien apa? Untungnya Dhatu masih sadar kalau hubungan sesama manusia di kehidupan nyata itu adalah yang terpenting, setelah hubungannya dengan Tuhan pastinya. Jadi Dhatu masih punya teman di kehidupan nyata yang tahu dan mengerti kalau dia adalah seorang Otaku. Tapi Dhatu suka nggak enak kalau liat temannya yang sesama pecinta jejepangan memilih menyendiri dengan yang sering orang anggap “dunia sendiri”. Memang benar sih pasti ada aja yang kayak gitu, lagi-lagi semacam stigma remaja yang sulit buat diubah.
Dhatu ingin ubah itu! Dhatu bikin klub pecinta Jepang sebagai wadah para Otaku untuk menyalurkan minat dan bakat waktu dia SMA. Asal kalian tahu kebanyakan para Otaku itu pintar bahasa inggris. Percaya nggak percaya ya, kalau Otaku sedang ngobrol di chat room aplikasi berbagi pesan pasti selalu pakai bahasa inggris. Belum lagi biasanya mereka jago gambar dan pintar bahasa Jepang. Ketimbang percakapan sehari-hari pakai bahasa jepang udah khatam di luar kepala. Nggak setiap saat sihkita masih di Indonesia woycampur-campur lah paling sering. Itu sudah jadi hal yang biasa di antara para Otaku yang Dhatu kenal. Club yang Dhatu buat mulai memenangkan berbagai macam lomba, bahkan ada yang tingkat nasional. Orang-orang mulai merubah persepsi tentang Otaku kearah yang lebih positif.
Setelah keadaan berubah menjadi baik, Otaku dipandang lebih positif, dapet tempat spesial di lemari piala, ada sesuatu yang berubah dalam diri Dhatu. Dia merasakan kejenuhan. Enggak tahu kenapa Dhatu tidak lagi seexcited dulu saat melihat anime baru keluar. Foto-foto Daiki tidak lagi membuatnya deg-degan. Festiva-festival Jepang sudah malas Dhatu sambangi. Alasannya tidak pasti, mungkin karena faktor kesibukan, secara Dhatu udah kelas 3 SMA dan bentar lagi mau UN. Dia juga udah nggak pernah ngurusin klub karena sudah beralih jabatan. Sehari-harinya sibuk bahas latihan soal dibuku SBM yang segede gaban. Itu semua membuat Dhatu semakin jauh dari dunia Otaku. Hingga suatu ketika, Dhatu tidak lagi menganggap dirinya seorang Otaku.
Diantara kejenuhan dan kepenatan belajar soal-soal ujian, Dhatu butuh pelampiasan. Sekali lagi dia mencoba nonton kartun-kartun Jepang, tapi sama sekali tidak ada reaksi. Flat, datar, Dhatu nggak merasakan sesuatu yang menggelitik di perutnya seperti dulu. Ibarat pacar yang sudah terlalu lama dipacarin, sudah bosan, sudah terlalu hapal, tahu betul seluk-beluk terbusuknya. Kejenuhan itu semakin menjadi. Saat itulah Dhatu termotivasi untuk menjari pelampiasan baru.
Diantara enam orang teman satu gengnya, lima orang lainnya adalah penganut paham: Oppa korea tiada dua alias Kpopers. 5 tahun berteman Dhatu berhasil mempertahankan idealismenya sebagai Otaku. Meskipun setiap hari kelima temannya teriak-teriak saat menonton MV dari idol Korea yang disuka, Dhatu kebal tidak tertarik sama sekali, paling hanya menanggapi sesekali. Namun ingat Dhatu butuh pelampiasan bukan? Berawal dari jenuh, menjadi penasaran, Dhatu mengetik kata kunci di laman pencarian Youtube. “KPOP” dengan kapital dan bold. Lalu terpampanglah surga dunia yang selama ini Dhatu dustakan.
Video paling pertama tertulis dengan huruf asing yang enggak bisa Dhatu baca, intinya ada tulisan BTS yang sering didengar Dhatu waktu teman-temannya lagi berbicara tentang Korea. Di bukalah video itu. Isinya 7 orang cowo-cowo bak anak kembar, Dhatu nggak bisa bedain muka mereka. Suaranya bagus, mukannya ganteng menjurus ke cantik, dance bagus, bisa rap juga. Awalnya biasa saja, eh tapi kok lama-lama kepala manggut-manggut sendiri, mulut berdusta ikut bernyanyi. Perut geli-geli menggelitik, kayak ada tangan-tangan yang menjamah indah. Rasannya sama seperti 7 tahun lalu saat Dhatu pertama kali kenal dunia Otaku. Hatinya terisi, pelampiasannya terpenuhi. Dhatu buka video kedua dan ketiga, keempat, kelima terus sampai nggak terhitung jumlahnya. Gawat! Dhatu ketagihan. Oppa-oppa Korea yang biasa dia hina pake sebutan “Plastik”, sekarang bikin dia senyum-senyum kayak orang gila.
Kata orang Otaku dan Kpopers itu nggak bisa bersatu. Kata orang mereka bagai dua dunia yang berbeda. Namun Dhatu mematahkan stigma itu. Dia bukti nyata kalau Bawang dan Plastik bisa bersama.
Popular Posts
Sistem Informasi : "Jangan samakan aku dengan sub-sistem!!"
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment