Skip to main content

Featured

Cerpen: Air Mata Jingga (sudah diterbitkan)

Liburan kala itu menjadi kenangan yang tak terlupakan. Bahkan 9 tahun berlalu, semua kenangan di sore hari itu masih terekam jelas di ingatannya. Liburan yang seharusnya menjadi hal menyenangkan bagi sebagian orang, malah menjadi pertaruhan hidup dan mati untuk gadis berusia 7 tahun ini. Tak ada yang menyangka, kejadian mengerikan akan menimpanya. Semua berjalan begitu cepat. Berbanding terbalik dengan ingatannya yang lambat terhapus. Seakan Tuhan tidak sudi untuk mengenyahkan kenangan pahit itu dari dalam ingatannya.  semua berjalan lancar. Liburan itu terasa manis seperti liburan pada umumnya. Semua tersenyum, dan terlihat bahagia. Mata gadis bernama Kinar itu, bahkan berbinar sesaat setelah kakinya menjejakkan tanah kota kelahiran ibundanya. Suasana pedesaan sudah tak lagi kental, dengan banyaknya mobil serta rumah-rumah kokoh di sepanjang jalan. Namun, kapal-kapal nelayan yang berjejer di garis pantai, masih menandakan bahwa Sidakaya, kabupaten Cilacap memanglah sebuah desa ne...

Cerpen Islami: Pacar Halal

 

Dibawakan dengan suara merdu pria dewasa, lantunan ayat-Mu semakin terdengar indah saat dia yang membaca. Aku hanya bisa terdiam meresapi setiap kata karena tidak pernah bosan rasanya. Tak jarang bibirku akan tanpa sengaja melantunkan ayat yang sama. Dia akan berhenti seketika, terkekeh kecil, lalu melanjutkan bacaannya. Aku lebih memilih diam sebenarnya, tapi mulut ini gatal ingin ikut bersuara. Pada akhirnya kami bertilawah bersama untuk lima ayat berikutnya, sisanya aku kembali terdiam. Pagi itu aku mengunjungi rumah-Mu untuk yang kesekian kalinya, beribadah tentunya dan juga mendengarkan surat An-Nisa yang sedang ia baca.

Kadang aku takut untuk mengakuinya, kalau ibadahku tidak lagi seputih semester lalu. Sekarang sudah ternoda menjadi abu-abu. Apakah ini bisa disebut mendua? Cintaku untuk-Mu tidak murni lagi, ada cinta lain yang mulai tumbuh di hati ini. Cinta kepada  manusia yang baru aku kenal 6 bulan lalu, melalui perantara doa yang aku panjatkan setiap malam. Kau pertemukan aku dan dia di sini. Bangunan masjid berdinding hijau ini menjadi saksi ketakutanku akan murka-Mu. 

Tapi kemudian aku tersadar, ini suratan takdir-Mu. Kau yang kenalkan dia dalam hidupku. Jangan salah kan aku jika suara merdu yang Kau berikan untuknya, menjadi faktor utama aku semakin menyukai pria itu. Terima kasih karena sudah menitipkan rasa sayang ini dihatiku untuk pria itu. Semua karena-Mu, aku bertemu dengan pacar halalku. 







Comments

Popular Posts