Skip to main content

Featured

Cerpen: Air Mata Jingga (sudah diterbitkan)

Liburan kala itu menjadi kenangan yang tak terlupakan. Bahkan 9 tahun berlalu, semua kenangan di sore hari itu masih terekam jelas di ingatannya. Liburan yang seharusnya menjadi hal menyenangkan bagi sebagian orang, malah menjadi pertaruhan hidup dan mati untuk gadis berusia 7 tahun ini. Tak ada yang menyangka, kejadian mengerikan akan menimpanya. Semua berjalan begitu cepat. Berbanding terbalik dengan ingatannya yang lambat terhapus. Seakan Tuhan tidak sudi untuk mengenyahkan kenangan pahit itu dari dalam ingatannya.  semua berjalan lancar. Liburan itu terasa manis seperti liburan pada umumnya. Semua tersenyum, dan terlihat bahagia. Mata gadis bernama Kinar itu, bahkan berbinar sesaat setelah kakinya menjejakkan tanah kota kelahiran ibundanya. Suasana pedesaan sudah tak lagi kental, dengan banyaknya mobil serta rumah-rumah kokoh di sepanjang jalan. Namun, kapal-kapal nelayan yang berjejer di garis pantai, masih menandakan bahwa Sidakaya, kabupaten Cilacap memanglah sebuah desa ne...

Cerpen Islami : Senyum Kelabu (sudah diterbitkan)

Dia terus bertanya kepada dirinya sendiri, “Apa yang salah? Kenapa mereka semua melirik dengan tatapan seperti melihat seorang penjahat? Menusuk bagai bilah pisau. Mencuri-curi kesempatan di sela obrolan, disusupi umpatan bahkan sindiran. Mulut mereka terus bergerilya dengan kuah pedas dan nasi panas, tetapi arah mata itu tetap tertuju pada satu titik. Pria dan wanita; tua dan muda; berjilbab dan tidak. Mereka semua sama. Satu yang pasti, semua atensi itu tertuju padanya.”

●●●

Humaira mencatat sejarah baru dalam hidupnya. Gadis manis itu yakin, setelah ini, dia akan menjadi bahan candaan teman sekelas sebab untuk pertama kalinya seorang Humaira pergi ke kantin fakultas. Sendirian. Dia tidak kesambet apa-apa, kok. Kebetulan memang lagi tidak bawa bekal. Orang tuanya sedang pergi ke tanah suci untuk beribadah haji. Oleh sebab itu, tidak ada yang menyiapkan bekal makan siang. Temannya yang lain membawa bekal dan tidak mungkin Huma meminta ditemani hanya untuk membeli makanan. Huma bukan tipe orang yang mau merepotkan orang lain demi kepentingan pribadinya. Selama itu bisa dikerjakan sendiri, ia akan lakukan sendiri. Jadi, mau tidak mau, Humaira harus pergi ke kantin sendirian untuk membeli makan siang.

Kantin fakultasnya berada di bagian paling dalam dan pojok belakang kampus, sedangkan ruang kelas Huma di lantai delapan. Cukup jauh dan membuang waktu jika harus setiap hari bolak-balik membeli makan. Oleh karena itu, Huma lebih memilih membawa bekal. Ia berjalan agak cepat menyusuri jalan setapak. Di bagian kanan dan kiri terlihat bangunan kampus menjulang tinggi. Setelah berbelok mengitari taman, Huma sampai di area kantin.

Suasananya sedikit berbeda dengan area kampus yang gersang. Kantin terasa lebih sejuk karena pohon-pohon bambu yang tertata rapi di sekelilingnya dan kolam ikan berukuran cukup besar dengan jembatan kecil di tengahnya. Meja dan kursi ditempatkan agak meminggir dekat gerai pedagang makanan, menyisakan ruangan yang cukup besar untuk tempat berlalu-lalang orang-orang. Sekilas suasananya memang sangat pas untuk tempat makan, tapi alasan lain yang membuat Huma enggan menginjakkan kaki ke kantin adalah kepulan asap berwarna putih tebal yang mengelabui mata dan paru-parunya. Aroma yang membuat napas tercekat bercampur dengan bau masakan dan keringat para manusia di sana. Asap rokok adalah hal yang paling Huma takuti selain Tuhan dan omelan uminya.

Perasaan Huma sudah kurang enak sejak pertama kali dia datang ke kantin itu. Di pintu masuk, dari kejauhan dia melihat segerombolan laki-laki yang sedang bercanda, berjalan menuju kearahnya. Saat berpapasan dengan Huma, salah seorang dari gerombolan laki-laki itu melihat Humaira. Dia mencolek temannya yang lain, menyebabkan temannya itu ikut melihat Huma dan kemudian mereka semua terdiam. Semua menunduk dalam dan menepi dengan rapi membentuk satu garis lurus di pinggir jalan masuk. Laki-laki lain dari kelompok itu yang memakai kacamata, melirik Humaira diam-diam. Tatapannya tajam mengamati Humaira dari atas ke bawah. Humaira bingung, hatinya tidak enak.

Belum selesai kebingungannya akan sikap segerombolan laki-laki itu, Humaira kembali dibuat salah tingkah. Saat dia berjalan di tengah kantin mencari gerai makanan yang sekiranya cocok dengan seleranya, Huma dihadiahi berbagai tatapan. Tajam pandangan mereka menatap sosok Humaira. Bahkan, semangkuk mi ayam di atas meja tidak lagi mereka hiraukan. Sekelompok perempuan yang sedang duduk di sudut kantin, berbisik satu sama lain dengan pandangan melekat erat pada sosoknya. Seorang laki-laki yang sedang menjepit puntung rokok berasap tipis di kedua belah bibir, menghentikan kegiatannya itu untuk sekadar melihat kearahnya. Humaira tidak lagi bingung, ia mengerti jika dirinya sedang dijadikan objek pengamatan seantero kantin.

-Bersambung-




Untuk melihat kelanjutan ceritanya, kalian dapat membaca cerpen ini dengan membeli buku kumpulan cerpen islami berjudul "Pertobatanku" yang diterbitkan oleh penerbit Loka Media, atau dengan men-klik tautan berikut:


Selamat membaca

Comments

Popular Posts